Beranda › Keamanan › BNPT: Deradikalisasi Berbasis Komunitas Diperkuat Lewat Peli...
Keamanan

BNPT: Deradikalisasi Berbasis Komunitas Diperkuat Lewat Pelibatan Mantan Narapidana Terorisme

BNPT: Deradikalisasi Berbasis Komunitas Diperkuat Lewat Pelibatan Mantan Narapidana Terorisme

BNPT meluncurkan program deradikalisasi 'Sahabat Damai' yang melibatkan mantan narapidana terorisme sebagai agen perdamaian di komunitas, dengan uji coba di Solo dan Cirebon. Program ini memicu keseimbangan antara peluang efektivitas berbasis pengalaman dan kekhawatiran akan risiko penyalahgunaan, sehingga diperlukan pengawasan berlapis dan asesmen ketat. Melalui dialog inklusif, upaya ini diharapkan dapat memperkuat kohesi sosial dan membuka ruang rekonsiliasi di tengah masyarakat.

Upaya memperkuat kohesi sosial melalui pendekatan inklusif kembali menjadi perhatian publik setelah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) meluncurkan program deradikalisasi berbasis komunitas yang melibatkan mantan narapidana terorisme sebagai agen perdamaian. Program bertajuk 'Sahabat Damai' ini telah diuji coba di Solo dan Cirebon sejak Agustus lalu, dan direncanakan diperluas ke lima kota lainnya mulai Oktober 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi nasional untuk menekan ancaman radikalisme dengan memanfaatkan pengalaman langsung dari mereka yang pernah terlibat dalam jaringan ekstremis. Keterlibatan mantan narapidana terorisme dipandang sebagai jembatan dialog yang potensial, namun juga memunculkan kekhawatiran di kalangan tokoh masyarakat yang menginginkan pengawasan ketat.

Menjembatani Perbedaan Melalui Pengalaman Langsung

Kepala BNPT, Komjen Pol. Mohammed Fauzi, menegaskan bahwa keterlibatan mantan narapidana terorisme dalam program ini didasarkan pada pemahaman mendalam mereka terhadap pola pikir radikal. "Mereka yang pernah berada di dalam lingkaran radikal memiliki akses dan kredibilitas untuk berbicara dengan kelompok yang rentan," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta. Salah satu peserta program, Arifin (35), mantan anggota jaringan teroris yang bebas sejak 2023, mengaku kini aktif mengajak anak muda di kampungnya untuk berdiskusi tentang toleransi. Arifin menyebut bahwa pendekatan personal dan non-konfrontatif lebih efektif daripada ceramah formal. Namun, sejumlah tokoh agama dan masyarakat menyoroti perlunya pengawasan ketat agar program ini tidak disalahgunakan, khawatir mantan narapidana terorisme belum sepenuhnya lepas dari ideologi lama. Menanggapi hal ini, BNPT menjamin bahwa setiap peserta telah melalui proses asesmen psikologis dan keagamaan yang ketat. "Kami tidak mengambil risiko. Seleksi dilakukan dengan verifikasi latar belakang dan evaluasi berkala," tambah Fauzi.

Keseimbangan Antara Peluang dan Risiko

Program 'Sahabat Damai' mencerminkan keseimbangan antara peluang dan kekhawatiran yang perlu dikelola secara hati-hati. Berikut adalah beberapa poin utama yang mencerminkan keseimbangan perspektif dalam program ini:

  • Efektivitas berbasis pengalaman: Mantan narapidana terorisme dianggap mampu menjangkau individu yang resisten terhadap pendekatan konvensional, karena mereka memahami narasi dan psikologi kelompok radikal. Pendekatan ini dinilai lebih autentik dan membuka ruang dialog yang lebih dalam di komunitas.
  • Pengawasan berlapis: Asesmen psikologis dan keagamaan dilakukan oleh tim independen, termasuk psikolog dan ulama moderat, untuk memastikan komitmen perdamaian para peserta. Langkah ini diharapkan meminimalkan risiko penyalahgunaan program.
  • Dukungan keterampilan: Kementerian Sosial menyediakan pelatihan keterampilan bagi para peserta program, sehingga mereka memiliki alternatif ekonomi yang stabil dan tidak kembali ke jaringan lama. Ini menjadi upaya stabilisasi sosial yang holistik.
  • Kritik konstruktif: Sejumlah tokoh agama, seperti KH. Ahmad Syafi'i, mengingatkan pentingnya transparansi dan keterlibatan komunitas dalam pengawasan. Pandangan ini menjadi masukan berharga untuk penyempurnaan program ke depan.

Langkah BNPT ini membuka ruang dialog yang lebih luas antara pemerintah, mantan narapidana terorisme, dan komunitas. Deradikalisasi berbasis komunitas bukan sekadar program keamanan, tetapi juga upaya membangun kepercayaan dan rekonsiliasi. Dengan melibatkan mantan narapidana terorisme sebagai bagian dari solusi, diharapkan muncul pemahaman bersama bahwa setiap individu memiliki kesempatan untuk berubah dan berkontribusi bagi perdamaian. Masyarakat pun diajak untuk tidak lagi memandang mereka dengan stigma, melainkan sebagai mitra dalam menjaga stabilitas. Melalui dialog yang terus-menerus, semua pihak dapat bersama-sama merawat kohesi sosial dan mencegah lahirnya ekstremisme baru.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Komjen Pol. Mohammed Fauzi, Arifin
Organisasi: Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Sosial
Lokasi: Solo, Cirebon
Polisi dan Tokoh Muda Gelar Patroli Dialogis di Jayapura
Kapolri: Penegakan Humanis dan Dialog Kunci Atasi Potensi Konflik Sosial
Keamanan Siber Nasional Diperkuat untuk Cegah Disinformasi yang Memicu Konflik
Polri dan TNI Tingkatkan Patroli Humanis di Wilayah Rawan Konflik
Kapolri Tekankan Pendekatan Humanis dan Dialog dalam Penanganan Aksi Unjuk Rasa