Beranda › Keamanan › BNPT: Deteksi Dini Radikalisme Harus Libatkan Keluarga dan L...
Keamanan

BNPT: Deteksi Dini Radikalisme Harus Libatkan Keluarga dan Lingkungan Tetangga

BNPT: Deteksi Dini Radikalisme Harus Libatkan Keluarga dan Lingkungan Tetangga

Kepala BNPT menekankan bahwa deteksi dini radikalisme harus melibatkan keluarga dan lingkungan tetangga sebagai garda terdepan pencegahan. Program Desa Deradikalisasi yang melibatkan komunitas telah merehabilitasi 150 orang sejak 2023, namun stigma terhadap mantan radikal masih menjadi hambatan reintegrasi. Dialog kolaboratif antara aparat, tokoh agama, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun ketahanan sosial yang berkeadilan.

Upaya pencegahan radikalisme di Indonesia semakin menekankan pentingnya keterlibatan langsung dari unit sosial terkecil, yaitu keluarga dan lingkungan tetangga. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Rycko Amelza Dahniel menyampaikan bahwa pendekatan keamanan semata tidak cukup untuk mendeteksi dini tumbuhnya paham radikal. Menurutnya, deteksi dini radikalisme harus dimulai dari kesadaran dan kepekaan anggota keluarga terhadap perubahan perilaku anggota lainnya, serta peran aktif tetangga dalam menjaga keamanan bersama. Pandangan ini muncul dalam rapat koordinasi di Jakarta yang membahas strategi penguatan ketahanan sosial sebagai fondasi utama pencegahan terorisme.

Membangun Ketahanan Sosial: Peran Keluarga dalam Deteksi Dini Radikalisme

BNPT telah mengimplementasikan program Desa Deradikalisasi di beberapa provinsi yang dinilai menunjukkan hasil menjanjikan. Melalui program ini, warga dilibatkan secara aktif dalam mengidentifikasi dan merespons potensi radikalisme di lingkungan mereka. Data BNPT mencatat bahwa sejak tahun 2023, total 150 orang yang terindikasi terpapar paham radikal berhasil direhabilitasi melalui pendekatan berbasis komunitas. Kunci keberhasilan program ini adalah membangun kepercayaan antara aparat dan masyarakat, serta memberi ruang dialog bagi mereka yang ingin meninggalkan jaringan radikal.

Untuk memperkuat peran keluarga, BNPT menggandeng tokoh agama dan psikolog dalam menyusun modul pendidikan keluarga. Modul ini dirancang agar orang tua dapat mendeteksi tanda-tanda awal radikalisme pada anak-anak mereka tanpa menimbulkan ketakutan atau stigma. Beberapa langkah yang direkomendasikan dalam modul tersebut meliputi:

  • Mengembangkan komunikasi terbuka dalam keluarga untuk membahas nilai-nilai toleransi dan kebangsaan.
  • Mengenali perubahan sikap ekstrem, seperti penolakan terhadap perbedaan pendapat atau isolasi sosial.
  • Melibatkan tokoh agama setempat sebagai mitra dialog jika ditemukan indikasi awal.

Pendekatan ini menekankan bahwa deteksi dini radikalisme bukanlah proses investigatif yang menakutkan, melainkan upaya preventif yang manusiawi dan berlandaskan gotong royong.

Tantangan Reintegrasi: Stigma dan Peluang Dialog Antar Kelompok

Di sisi lain, pengamat keamanan mencatat bahwa stigma terhadap mantan radikal masih menjadi hambatan signifikan dalam reintegrasi sosial. Tanpa penerimaan masyarakat, upaya rehabilitasi individu tidak akan maksimal. Karena itu, BNPT berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan kementerian terkait guna menyediakan program pelatihan kerja bagi mereka yang telah menjalani rehabilitasi. Program ini diharapkan dapat membuka peluang ekonomi dan sosial yang baru, sekaligus mengurangi risiko kembalinya seseorang ke jaringan radikal.

Berbagai pihak memiliki posisi yang perlu didengarkan secara berimbang dalam upaya ini:

  • BNPT menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif antara aparat, keluarga, dan tokoh masyarakat.
  • Pengamat keamanan menyoroti perlunya kampanye publik yang mengedepankan prinsip kemanusiaan dan keadilan agar stigma dapat dikikis.
  • Tokoh agama dan psikolog mengingatkan bahwa proses deteksi dini harus dilakukan tanpa menghakimi, melainkan dengan empati dan kesediaan membantu.

Dialog antar kelompok ini menjadi kunci dalam merumuskan strategi yang tidak hanya efektif secara keamanan, tetapi juga adil dan inklusif bagi semua pihak.

Ke depan, tantangan terbesar bukanlah pada aspek teknis deteksi, melainkan pada kemampuan masyarakat untuk saling mendukung dan memberi kesempatan kedua. Rekonsiliasi antara mantan radikal dan komunitasnya memerlukan keberanian dari semua pihak untuk membuka ruang dialog yang jujur dan saling percaya. Dengan mengedepankan semangat kemanusiaan dan persatuan, upaya deradikalisasi dapat menjadi momentum untuk memperkuat kohesi sosial yang lebih tangguh.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Rycko Amelza Dahniel
Organisasi: BNPT
Lokasi: Jakarta
Polisi dan Tokoh Muda Gelar Patroli Dialogis di Jayapura
Kapolri: Penegakan Humanis dan Dialog Kunci Atasi Potensi Konflik Sosial
Keamanan Siber Nasional Diperkuat untuk Cegah Disinformasi yang Memicu Konflik
Polri dan TNI Tingkatkan Patroli Humanis di Wilayah Rawan Konflik
Kapolri Tekankan Pendekatan Humanis dan Dialog dalam Penanganan Aksi Unjuk Rasa