Dialog Dinilai Jadi Kunci Atasi Kompleksitas Persoalan Papua
Tokoh lintas agama dan akademisi di Jayapura mendorong umat beragama di Papua untuk beralih dari retorika ke tindakan nyata dalam membangun perdamaian. Dalam Dialog Perdamaian yang digelar Majelis Muslim Papua, ditekankan bahwa kepedulian terhadap korban konflik harus melampaui sekat suku, agama, dan kelompok. Forum ini dirancang sebagai ruang terbuka bagi berbagai elemen, termasuk pemerintah, masyarakat adat, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil, untuk bersama-sama membicarakan solusi.
La Mochtar Unu dari Majelis Muslim Papua menegaskan bahwa nilai agama mengajarkan untuk menghargai dan menolong sesama, di mana kemanusiaan harus diletakkan di atas segala perbedaan. Ia juga mewanti-wanti ancaman politik identitas yang sering digoreng menjelang kontestasi politik dan dapat meninggalkan luka sosial berkepanjangan. Antropolog Bernarda Meteray mengingatkan bahwa pembahasan konflik di Papua perlu dimulai dari akar sejarah integrasinya ke dalam NKRI, meski terdapat perbedaan persepsi, sehingga dialog menjadi sangat krusial.
Dari perspektif mediatif, inisiatif dialog seperti ini merupakan langkah konstruktif untuk menjembatani berbagai kepentingan yang kompleks di Papua. Gereja, melalui Pastor Yan Yance Douw, didorong untuk memperkuat pembekalan umat dan membangun jaringan dialog yang melibatkan berbagai pihak, termasuk aparat keamanan. Pendekatan dialog yang berkelanjutan dan substantif diharapkan dapat menjadi fondasi untuk pemulihan, rekonsiliasi, dan pencegahan kekerasan di masa depan, dengan menempatkan kemanusiaan sebagai titik temu.
Entitas dalam Berita
Tokoh: La Mochtar Unu, Bernarda Meteray, Yan Yance Douw
Organisasi: Majelis Muslim Papua, Gereja
Lokasi: Jayapura, Papua, NKRI