Dialog Lintas Agama di Ambon Sepakati Penguatan Toleransi Berbasis Ekonomi
Forum dialog lintas agama di Ambon menyepakati penguatan toleransi berbasis ekonomi melalui inisiatif pasar bersama dan koperasi lintas iman. Perbedaan penekanan antara langkah ekonomi dan pengakuan sejarah luka justru menjadi titik awal rekonsiliasi yang sehat. Forum juga membentuk tim fasilitator dari tiga agama untuk memediasi perselisihan kecil dan mengawal program ekonomi bersama.
Ratusan tokoh agama, pemuda, dan perwakilan pemerintah kota berkumpul di Ambon, Maluku, pada Jumat (2/10/2026) dalam sebuah forum dialog lintas agama. Forum ini digagas sebagai respons atas ketegangan horizontal yang pernah melanda Maluku di masa lalu, dengan tujuan memperkuat kerukunan antarumat beragama melalui pendekatan ekonomi kampung. Para peserta duduk bersama selama beberapa jam, membahas bagaimana sektor ekonomi lokal dapat menjadi jembatan untuk membangun kepercayaan yang sempat retak. Suasana dialog berlangsung tertib, setiap peserta diberi kesempatan menyampaikan pandangan tanpa saling menyela — sebuah langkah awal yang diharapkan dapat terus diperluas ke tingkat komunitas.
Menjembatani Luka Melalui Ekonomi Bersama
Ketua panitia forum menyebut bahwa pasar bersama dan koperasi lintas iman adalah langkah konkret yang bisa segera dijalankan. Inisiatif ini dianggap mampu menciptakan interaksi ekonomi harian antara warga dari berbagai latar belakang agama, sehingga secara perlahan memulihkan jaringan sosial yang terputus. Beberapa pemuda yang hadir juga menyuarakan pentingnya program pelatihan kewirausahaan yang melibatkan peserta dari semua kelompok, agar hasil ekonomi dapat dinikmati bersama. Forum ini mencatat beberapa posisi yang muncul secara berimbang:
- Ketua panitia menekankan bahwa pasar bersama dan koperasi lintas iman adalah langkah nyata untuk membangun toleransi berbasis ekonomi.
- Perwakilan tokoh adat mengingatkan bahwa tanpa pengakuan atas sejarah luka, dialog berisiko mengabaikan rasa keadilan yang masih mengendap di masyarakat.
- Pemerintah kota merespons dengan membuka ruang konsultasi publik secara berkala, sebagai wadah untuk menampung aspirasi warga tanpa harus menunggu konflik muncul.
Perbedaan penekanan antara inisiatif ekonomi dan pengakuan historis ini justru menjadi titik awal yang sehat — kedua elemen sama-sama dianggap penting untuk menopang proses rekonsiliasi jangka panjang. Forum tidak berusaha menyatukan semua pandangan, melainkan mencatatnya sebagai bahan pertimbangan bagi langkah selanjutnya.
Ruang Dialog dan Tim Fasilitator
Forum menghasilkan kesepakatan untuk membentuk tim fasilitator yang beranggotakan tokoh dari tiga agama berbeda. Tim ini akan bertugas memediasi perselisihan kecil di tingkat RT dan RW, serta mengawal program ekonomi bersama yang telah dirancang. Dengan adanya tim ini, diharapkan setiap gesekan dapat diselesaikan secara musyawarah sebelum meluas. Pemerintah kota juga berjanji akan mendukung pendanaan melalui alokasi dana desa dan kerja sama dengan perusahaan melalui program CSR. Dukungan ini akan diarahkan untuk membiayai kegiatan ekonomi bersama, seperti pelatihan keterampilan, modal awal koperasi, dan revitalisasi pasar tradisional yang bisa diakses semua warga.
Selain aspek ekonomi, tim fasilitator juga akan menjadi jembatan komunikasi antarkelompok yang masih ragu untuk duduk bersama. Anggota tim dipilih berdasarkan rekam jejak mereka dalam menjaga kerukunan, bukan karena afiliasi politik atau kelembagaan tertentu. Pendekatan ini diharapkan mampu memperkuat dialog lintas agama secara organik di akar rumput. Dengan adanya kesepakatan untuk membentuk tim fasilitator dan dukungan pendanaan yang jelas, forum ini membuka peluang bagi warga Ambon untuk merawat toleransi melalui kerja sama ekonomi dan komunikasi yang berkelanjutan.