Forum Rekonsiliasi Maluku Gelar Ritual Adat 'Pela Gandong' Perkuat Persaudaraan
Forum Rekonsiliasi Maluku menggelar ritual adat Pela Gandong di Ambon untuk memperkuat persaudaraan antarkelompok yang sempat terpecah akibat konflik. Ritual ini melibatkan tokoh adat, agama, pemuda, serta dukungan pemerintah dan aparat keamanan, menjadikannya modal sosial untuk stabilitas dan dialog. Pendekatan bottom-up berbasis budaya ini diharapkan menjadi fondasi rekonsiliasi berkelanjutan di Maluku.
Forum Rekonsiliasi Maluku kembali menggelar ritual adat 'Pela Gandong' di Ambon, yang melibatkan perwakilan masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan kelompok etnis. Ritual ini bertujuan memperkuat ikatan persaudaraan tradisional yang sempat terputus akibat konflik masa lalu. Berbagai elemen, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, hingga pemuda, bersama-sama mengucapkan ikrar untuk menjaga perdamaian dan saling melindungi, mengingatkan kembali pada nilai luhur kebersamaan yang telah dijaga secara turun-temurun.
Menghidupkan Tradisi Pela Gandong sebagai Perekat Sosial
Ketua Forum Rekonsiliasi Maluku, Elly Toisutta, menjelaskan bahwa Pela Gandong bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah sistem sosial yang hidup dan mampu meredam potensi konflik. Menurutnya, melalui ritual ini generasi muda diharapkan memahami bahwa persaudaraan dan hidup berdampingan secara damai adalah warisan nenek moyang yang harus dijaga. Kegiatan ini juga dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah dan aparat keamanan sebagai bentuk dukungan terhadap inisiatif perdamaian berbasis kearifan lokal. Langkah ini menegaskan bahwa budaya adat memiliki peran strategis dalam menjaga stabilitas dan harmoni sosial di Maluku.
Pela Gandong: Modal Sosial untuk Stabilitas dan Dialog
Ritual Pela Gandong menawarkan contoh nyata bagaimana modal sosial dan budaya dapat dimobilisasi untuk menjaga stabilitas serta harmoni sosial. Pendekatan dari bawah (bottom-up) yang mengakar pada tradisi ini menunjukkan bahwa perdamaian seringkali dapat ditempa melalui jalinan hubungan kemanusiaan dan budaya, melampaui sekat-sekat perbedaan. Berbagai pihak yang terlibat dalam ritual ini memiliki peran yang saling melengkapi:
- Tokoh adat berperan sebagai penjaga nilai-nilai tradisional dan memastikan ritual berlangsung sesuai dengan tata cara yang diwariskan.
- Tokoh agama memberikan dukungan moral dan mengingatkan masyarakat akan pentingnya toleransi antarkeyakinan.
- Pemuda menjadi motor penggerak dalam menyebarluaskan semangat persaudaraan ke generasi berikutnya.
- Pemerintah daerah dan aparat keamanan mendukung penuh kegiatan ini sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas wilayah.
Inisiatif semacam ini menjadi fondasi yang kuat untuk dialog dan rekonsiliasi yang lebih luas. Forum Rekonsiliasi Maluku berharap agar ritual Pela Gandong tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi juga tertanam dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Maluku. Dengan terus merawat tradisi ini, diharapkan potensi konflik dapat diredam dan persaudaraan yang pernah retak dapat dipulihkan secara bertahap. Semua pihak diajak untuk terus mencari titik temu dan menjadikan budaya adat sebagai jembatan menuju perdamaian abadi.