Beranda › Ekonomi › Kementerian Sosial dan Baznas Luncurkan Program Ekonomi Goto...
Ekonomi

Kementerian Sosial dan Baznas Luncurkan Program Ekonomi Gotong Royong untuk Redam Dampak PHK

Kementerian Sosial dan Baznas Luncurkan Program Ekonomi Gotong Royong untuk Redam Dampak PHK

Kementerian Sosial dan Baznas meluncurkan program Ekonomi Gotong Royong untuk meredam dampak PHK di sektor manufaktur dan ritel. Program ini menawarkan modal usaha mikro, pelatihan digital, dan akses pasar online dengan prinsip gotong royong dan ekonomi sosial. Dialog antara pemerintah, serikat pekerja, dan masyarakat terus dijalin untuk memperkuat stabilitas dan mendorong rekonsiliasi.

Meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor manufaktur dan ritel dalam beberapa bulan terakhir mendorong Kementerian Sosial bersama Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) meluncurkan program bertajuk 'Ekonomi Gotong Royong' di Jakarta pada Selasa (15/9). Inisiatif ini hadir sebagai respons atas situasi yang berpotensi memicu ketegangan sosial jika tidak dikelola dengan bijak. Program ini menyasar 5.000 kepala keluarga di 10 kota, antara lain Bekasi, Tangerang, dan Surakarta, dengan harapan mampu menjadi jaring pengaman inklusif yang tidak hanya meredam gejolak ekonomi, tetapi juga menjaga harmoni di tengah masyarakat.

Mengelola Dampak PHK melalui Ekonomi Sosial dan Gotong Royong

Program Ekonomi Gotong Royong mengedepankan prinsip gotong royong dan ekonomi sosial, di mana penerima manfaat tidak sekadar menerima bantuan, melainkan dilibatkan secara aktif dalam proses pemulihan. Melalui modal usaha mikro tanpa bunga, pelatihan digital marketing, serta akses ke pasar online berbasis komunitas, program ini berupaya memberdayakan mereka yang terdampak PHK agar mampu bangkit secara mandiri. Menteri Sosial, Tri Rismaharini, menekankan bahwa gesekan horizontal akibat kesenjangan ekonomi kerap menjadi pemicu konflik di akar rumput, sehingga pendekatan gotong royong dipilih untuk membangun solidaritas dan meredam potensi perpecahan. Ketua Baznas, Prof. Dr. Noor Achmad, menambahkan bahwa bantuan yang diberikan tidak membedakan latar belakang agama atau suku, menegaskan prinsip keadilan dan kebersamaan sebagai landasan utama. Program yang direncanakan berlangsung selama dua tahun ini menargetkan total 50.000 penerima manfaat dengan sejumlah aspek utama sebagai berikut:

  • Penyediaan modal usaha mikro tanpa bunga untuk memulai atau mengembangkan usaha kecil.
  • Pelatihan digital marketing guna meningkatkan kapasitas pemasaran produk secara online.
  • Akses ke pasar online yang dikelola komunitas sebagai wadah promosi dan transaksi.
  • Pendampingan usaha secara berkala untuk memastikan keberlanjutan.

Ruang Dialog Terbuka untuk Memperkuat Stabilitas

Inisiatif ini mendapat apresiasi luas, termasuk dari serikat pekerja, namun mereka juga mengingatkan agar program tidak bersifat karitatif semata. Menurut perwakilan serikat pekerja, bantuan modal dan pelatihan harus diimbangi dengan upaya nyata menciptakan lapangan kerja baru, sehingga dampaknya tidak hanya bersifat jangka pendek. Mereka mendorong sinergi yang lebih erat antara pemerintah, swasta, dan komunitas lokal untuk memperluas jangkauan program. Sementara itu, pengamat ekonomi sosial menilai program ini berpotensi menjadi model intervensi yang efektif apabila dijalankan secara transparan dan konsisten. Dialog antara para pemangku kepentingan terus dijalin guna menyempurnakan implementasi, serta memastikan bahwa setiap langkah stabilisasi ekonomi tetap mengedepankan semangat kebersamaan dan rekonsiliasi.

Kehadiran program Ekonomi Gotong Royong mengingatkan kita bahwa persoalan PHK tidak bisa diselesaikan secara sektoral. Dibutuhkan keterlibatan semua pihak—pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan warga yang terdampak—untuk bersama-sama mencari titik temu. Dengan membuka ruang dialog yang setara dan mengedepankan prinsip saling menguatkan, semangat gotong royong dapat menjadi fondasi kokoh dalam merawat stabilitas sosial. Semoga langkah kecil ini menjadi awal dari jembatan rekonsiliasi yang lebih luas, di mana setiap suara didengar dan setiap kebutuhan diakomodasi demi masa depan yang lebih adil dan damai.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Tri Rismaharini, Noor Achmad
Organisasi: Kementerian Sosial, Baznas
Lokasi: Jakarta, Bekasi, Tangerang, Surakarta
Pengamat: Pemulihan Ekonomi Pasca-Bencana Perlu Libatkan Seluruh Pihak untuk Cegah Kesenjangan
Menko Polkam ajak pengusaha perkuat sinergi ekonomi-keamanan
Pelaku UMKM dari Berbagai Latar Belakang Bersatu dalam Pameran Ekonomi Lintas Agama
Program Ekonomi Kerakyatan Berhasil Turunkan Disparitas di Wilayah Konflik
Menko Polkam Ajak Anggota Kadin Perkuat Sinergi Politik, Keamanan, dan Ekonomi