Beranda › Opini › Ketua MPR: Gotong Royong Digital Bisa Perkuat Persatuan di E...
Opini

Ketua MPR: Gotong Royong Digital Bisa Perkuat Persatuan di Era Disrupsi

Ketua MPR: Gotong Royong Digital Bisa Perkuat Persatuan di Era Disrupsi

Ketua MPR Bambang Soesatyo mengusulkan adaptasi nilai gotong royong ke dalam ruang digital sebagai perekat persatuan nasional di era disrupsi teknologi. Gagasan ini mendapat respons positif dari para pakar sosial digital yang menekankan pentingnya literasi digital masif agar teknologi benar-benar memperkuat, bukan memecah, kohesi bangsa. Dialog antara berbagai pihak diharapkan dapat menciptakan ekosistem digital yang inklusif dan mendorong rekonsiliasi di tengah polarisasi yang ada.

Di tengah percepatan transformasi digital yang membawa dampak ekonomi sekaligus memunculkan tantangan sosial, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), Bambang Soesatyo, mengemukakan gagasan untuk mengadaptasi nilai gotong royong ke dalam ruang digital sebagai perekat persatuan nasional. Era disrupsi teknologi dan informasi, menurutnya, tidak hanya membuka peluang baru tetapi juga memunculkan polarisasi serta penyebaran misinformasi yang dapat mengancam kohesi bangsa. Gagasan ini pun mendapat sambutan beragam dari para pakar sosial digital, yang menekankan perlunya literasi digital masif agar transformasi tersebut benar-benar memperkuat, bukan justru memecah, persatuan nasional. Semua pihak diajak untuk melihat teknologi sebagai alat yang netral, yang hasilnya bergantung pada bagaimana manusia mengelolanya secara bersama.

Menjembatani Kesenjangan Digital dengan Gotong Royong

Bambang Soesatyo, yang akrab disapa Bamsoet, mengajak seluruh elemen masyarakat, terutama generasi muda, untuk memanfaatkan platform digital sebagai ruang membangun narasi positif dan melakukan kolaborasi lintas daerah. Menurutnya, semangat gotong royong digital dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk aksi nyata yang tidak hanya memperkuat solidaritas tetapi juga mengurangi kesenjangan akses teknologi. Beberapa inisiatif yang diusulkan meliputi:

  • Inisiatif crowdfunding untuk membantu penanganan bencana alam di berbagai wilayah, yang memungkinkan partisipasi dari seluruh penjuru negeri.
  • Program mentorship online yang menghubungkan para ahli dari perkotaan dengan pemuda di daerah terpencil, guna mempercepat transfer pengetahuan dan keterampilan digital.
  • Penyebaran konten kreatif yang mendorong toleransi, persaudaraan, dan kebanggaan sebagai bangsa, sebagai upaya melawan narasi perpecahan di dunia maya.

Bamsoet menegaskan bahwa jika diarahkan dengan baik, teknologi dapat menjadi alat yang efektif untuk mendekatkan kelompok yang terpisah secara geografis dan sosial, sehingga pada akhirnya memperkuat rasa kebersamaan dan tujuan nasional yang sama. Ia optimistis bahwa gotong royong digital bukan hanya sekadar wacana, melainkan langkah konkret yang bisa dijalankan oleh siapa saja, di mana saja, asalkan ada kemauan bersama untuk berkolaborasi.

Literasi Digital sebagai Pondasi Persatuan Nasional

Para pakar sosial digital yang hadir dalam seminar tersebut menyambut baik gagasan gotong royong digital, namun memberikan catatan penting. Mereka berpendapat bahwa tanpa bekal literasi digital yang memadai, masyarakat rentan terjebak dalam polarisasi dan informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang sistematis dan inklusif untuk memastikan teknologi benar-benar menjadi perekat persatuan nasional. Sejumlah poin yang disoroti para pakar antara lain:

  • Perlunya pendidikan literasi digital secara masif, mulai dari tingkat sekolah hingga komunitas, agar masyarakat mampu menyaring informasi secara kritis dan tidak mudah terprovokasi.
  • Pentingnya etika berinteraksi di dunia maya, seperti menghindari ujaran kebencian dan hoaks, yang dapat merusak persatuan nasional dan memicu konflik horizontal.
  • Dorongan untuk menciptakan ruang dialog virtual yang aman dan inklusif, di mana perbedaan pendapat dapat dikelola secara konstruktif tanpa saling menyerang.

Menurut para pakar, teknologi ibarat pisau bermata dua: jika tidak dikelola dengan baik, ia bisa memecah belah, tetapi jika diarahkan dengan benar, ia bisa menjadi pilar utama dalam memperkuat kohesi sosial dan persatuan nasional. Sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan pelaku industri digital sangat diperlukan untuk mewujudkan ekosistem digital yang sehat. Diskusi semacam ini menjadi langkah awal yang penting untuk membangun kesepahaman bersama.

Gagasan gotong royong digital yang diusung oleh Ketua MPR membuka ruang dialog yang luas bagi seluruh elemen bangsa. Di tengah perbedaan pandangan, justru di situlah letak kekuatan demokrasi: kemampuan untuk duduk bersama, mendengarkan, dan mencari titik temu. Ke depan, dibutuhkan komitmen kolektif untuk terus merawat semangat kebersamaan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital. Dengan saling menghargai dan berkolaborasi, transformasi teknologi tidak lagi menjadi ancaman, melainkan jembatan yang menghubungkan keberagaman Indonesia menuju persatuan nasional yang lebih kokoh.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Bambang Soesatyo
Organisasi: Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR)
Ketua PBNU: Moderasi Beragama Solusi Konkret Menjawab Tantangan Politik Identitas
Ketua MPR: Musyawarah untuk Mufakat Harus Tetap Jadi Ruh Penyelesaian Masalah Bangsa
Intelektual Publik Tawarkan Pendekatan Dialog dalam Penyelesaian Konflik Agraria
Tokoh Masyarakat Desak Rekonsiliasi Pasca-Pilkada yang Memanas
Opini: Merawat Ingatan Kolektif 1965 dengan Pendekatan Dialog dan Rekonsiliasi