Peran Ekonomi Inklusif sebagai Perekat Sosial di Daerah Konflik
Membangun stabilitas jangka panjang di daerah yang pernah atau sedang mengalami konflik, seperti Aceh dan Papua, tidak bisa hanya mengandalkan pendekatan keamanan dan politik. Penguatan ekonomi inklusif yang dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk kelompok marginal, memiliki peran krusial sebagai perekat sosial. Pembangunan infrastruktur, penciptaan lapangan kerja, dan pemberdayaan usaha lokal yang adil dapat membangun rasa memiliki bersama terhadap perdamaian.
Di Aceh, perdamaian telah membuka peluang investasi dan pembangunan yang lebih besar. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan ekonomi tersebut terdistribusi secara merata dan melibatkan mantan pihak yang berkonflik, sehingga mereka memiliki kepentingan untuk menjaga stabilitas. Di Papua, ketimpangan ekonomi yang masih lebar antara pendatang dan masyarakat asli sering kali disebut sebagai salah satu akar ketidakpuasan.
Oleh karena itu, kebijakan ekonomi di kedua daerah perlu dirancang dengan sensitivitas konflik, memprioritaskan program yang membangun interaksi positif antar kelompok, dan mengurangi kesenjangan. Ketika masyarakat merasakan manfaat nyata perdamaian dan pembangunan dalam kehidupan sehari-hari mereka, daya tahan sosial terhadap provokasi dan narasi pemecah belah akan semakin kuat. Ekonomi yang berkeadilan bukan hanya tujuan, tetapi juga instrumen vital untuk memelihara persatuan.
Entitas dalam Berita
Lokasi: Aceh, Papua