Program Perdamaian Melalui Pendidikan di Ambon: Sekolah Sebagai Laboratorium Dialog
Pemerintah Kota Ambon meluncurkan program ‘Sekolah Perdamaian’ di 20 sekolah dasar dan menengah untuk membangun kohesi sosial melalui pendidikan multikultural dan mediasi sebaya. Meskipun sempat ada kekhawatiran dari orang tua, sosialisasi intensif berhasil menjembatani perbedaan pandangan. Program yang dievaluasi setiap semester ini diharapkan menjadi model dialog lintas agama yang dapat diperluas ke seluruh Ambon.
Pada 29 Agustus 2026, Pemerintah Kota Ambon bersama lembaga swadaya masyarakat resmi meluncurkan program ‘Sekolah Perdamaian’ yang menyasar 20 sekolah dasar dan menengah di kawasan yang pernah menjadi episentrum konflik horizontal. Inisiatif ini lahir dari kesadaran bersama bahwa pendidikan memiliki peran strategis dalam membangun kembali kohesi sosial pascakonflik. Program ini tidak hanya menyasar aspek akademik, tetapi juga membekali siswa dengan nilai-nilai kebersamaan dan keterbukaan terhadap perbedaan.
Membangun Kesadaran Multikultural Melalui Kurikulum Perdamaian
Kurikulum ‘Sekolah Perdamaian’ dirancang untuk mengintegrasikan pendidikan multikultural, mediasi sebaya, dan kunjungan langsung ke tempat ibadah lintas agama. Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy, menegaskan bahwa generasi muda harus belajar dari pengalaman masa lalu agar mampu merajut masa depan yang rukun. Para guru di setiap sekolah telah menjalani pelatihan khusus sebagai fasilitator dialog, sehingga mereka mampu memandu diskusi yang sensitif secara netral. Seorang siswa kelas 9 bernama Maria mengaku program ini membantunya lebih memahami teman-teman yang berbeda agama, dan ia merasa lebih nyaman untuk saling bertukar cerita.
- 20 sekolah dasar dan menengah di wilayah bekas konflik menjadi laboratorium dialog.
- Kegiatan meliputi role-play mediasi sebaya dan kunjungan ke gereja, masjid, serta pura.
- Pelatihan guru difokuskan pada teknik fasilitasi diskusi lintas iman yang inklusif.
Kekhawatiran Orang Tua dan Langkah Sosialisasi
Di sisi lain, program ini sempat menuai kekhawatiran dari sejumlah orang tua. Mereka khawatir materi yang diajarkan dapat bertentangan dengan keyakinan agama anak-anak. Untuk mengatasi hal ini, pihak sekolah segera mengadakan sosialisasi terbuka yang melibatkan tokoh agama dan komite sekolah. Dalam pertemuan tersebut, tujuan dan metode program dijelaskan secara transparan, sehingga orang tua memahami bahwa program ini justru memperkuat identitas keagamaan sekaligus mengajarkan toleransi. Langkah ini menjadi contoh nyata bahwa dialog antar pemangku kepentingan – sekolah, keluarga, dan komunitas – dapat meredakan gesekan dan membangun kepercayaan.
Program ‘Sekolah Perdamaian’ direncanakan akan dievaluasi setiap semester. Hasil evaluasi akan digunakan untuk memperbaiki materi dan metode, serta memperluas jangkauan ke kecamatan lain di Ambon. Pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mengembangkan model pendidikan perdamaian ini sebagai investasi jangka panjang bagi stabilitas sosial. Keterbukaan terhadap masukan dari berbagai pihak menjadi kunci agar program ini benar-benar menjadi milik bersama, bukan sekadar proyek sepihak.
Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari indeks toleransi di sekolah, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan bersama. Dialog yang telah dimulai di ruang kelas diharapkan dapat mengalir ke dalam kehidupan sehari-hari, di rumah, dan di lingkungan sekitar. Dengan semangat saling mendengar dan menghargai, program ini membuka peluang bagi rekonsiliasi yang lebih luas di Ambon. Masa depan yang damai dimulai dari langkah kecil hari ini, dan setiap anak adalah duta perdamaian yang potensial.