Beranda › Keamanan › Sinergi TNI dan Masyarakat Poso Diperkuat Lewat Dialog Keama...
Keamanan

Sinergi TNI dan Masyarakat Poso Diperkuat Lewat Dialog Keamanan

Sinergi TNI dan Masyarakat Poso Diperkuat Lewat Dialog Keamanan

Dialog keamanan yang digelar TNI dan masyarakat Poso menjadi langkah strategis merawat kondusivitas wilayah pasca-membaiknya situasi beberapa tahun terakhir. Melalui forum ini, berbagai pihak menyepakati penguatan sinergi, deradikalisasi berbasis kearifan lokal, serta patroli informasi bersama untuk menangkal hoaks dan paham radikal. Ke depan, dialog rutin diharapkan terus dirawat sebagai ruang rekonsiliasi dan penguatan stabilitas jangka panjang di Sulawesi Tengah.

Poso, Sulawesi Tengah, kembali menjadi titik pertemuan penting antara aparat keamanan dan masyarakat. Pada 30 September 2026, Komandan Kodim 1307/Poso menggelar dialog kamtibmas bersama tokoh masyarakat, pemuda, dan perempuan di aula kodim. Pertemuan ini hadir di tengah membaiknya situasi keamanan yang relatif kondusif dalam beberapa tahun terakhir. Dialog semacam ini menjadi pengingat bahwa keamanan bukanlah sekadar tanggung jawab aparat, melainkan ikhtiar bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Melalui ruang dialog yang terbuka, warga dan aparat duduk satu meja untuk saling mendengar, memahami, dan merumuskan langkah bersama menjaga stabilitas.

Dialog Keamanan: Memperkuat Sinergi TNI dan Warga Poso

Dalam sambutannya, Dandim 1307/Poso menegaskan bahwa keamanan adalah tanggung jawab bersama. Ia mengajak seluruh pihak untuk tidak menyerahkan sepenuhnya urusan kamtibmas kepada TNI dan Polri. Dialog ini, menurutnya, merupakan sarana untuk memperkuat sinergi antara aparat dan warga dalam meredam potensi konflik. Kehadiran para tokoh masyarakat, pemuda, dan perempuan dalam forum tersebut menunjukkan adanya kesadaran kolektif bahwa stabilitas Poso harus dirawat bersama-sama. Para peserta juga diajak untuk memperkuat komunikasi dua arah agar informasi yang berkembang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah.

Sejumlah warga yang hadir menyampaikan kekhawatiran mereka mengenai masuknya paham radikal melalui internet. Media sosial dan platform digital dinilai menjadi saluran yang rawan dimanfaatkan untuk menyebarkan ideologi ekstrem, terutama di kalangan pemuda. Menanggapi hal itu, perwakilan ormas keagamaan mengusulkan agar program deradikalisasi berbasis kearifan lokal lebih digalakkan. Mereka menilai keterlibatan mantan kombatan sebagai agen perdamaian dapat menjadi jembatan untuk menjangkau kelompok-kelompok yang pernah terpapar paham kekerasan. Usulan ini mendapat respons positif dari pihak TNI dan Polri yang siap memfasilitasi pelatihan keterampilan bagi kelompok rentan, sehingga mereka memiliki alternatif ekonomi dan sosial yang lebih baik.

  • TNI dan Polri berkomitmen memfasilitasi pelatihan keterampilan untuk kelompok rentan agar tidak mudah direkrut gerakan ekstrem.
  • Perwakilan ormas keagamaan mendorong program deradikalisasi berbasis kearifan lokal yang melibatkan mantan kombatan sebagai agen perdamaian.
  • Warga mengusulkan patroli informasi bersama untuk menangkal hoaks yang berpotensi memecah belah kerukunan di Poso.
  • Pembentukan pos ronda bersama menjadi salah satu kesepakatan konkret yang dihasilkan dari dialog ini.

Menjaga Stabilitas Poso: Antara Dialog, Pemberdayaan, dan Pengawasan

Para pengamat keamanan memandang dialog rutin seperti ini sebagai langkah strategis membangun kepercayaan antara masyarakat dan aparat. Selama ini, kesalahpahaman sering muncul akibat minimnya komunikasi dan saluran partisipasi yang tidak memadai. Dengan adanya forum dialog, warga dapat menyampaikan aspirasi dan kekhawatirannya secara langsung, sementara aparat mendapat masukan yang lebih akurat dari lapangan. Pendekatan keamanan yang mengedepankan hak asasi manusia dan dialog, bukan kekerasan, diharapkan menjadi pola yang terus dirawat dalam menjaga stabilitas jangka panjang. Para pengamat juga mengingatkan bahwa upaya deradikalisasi akan efektif jika dilakukan dengan pendekatan kemanusiaan yang menghormati martabat setiap orang.

Di akhir pertemuan, para peserta menyepakati sejumlah langkah tindak lanjut yang bersifat konkret. Kesepakatan tersebut meliputi pembentukan pos ronda bersama, penguatan kerja sama pemuda dalam patroli informasi digital, serta pembuatan kanal aduan warga terkait konten radikal. Langkah-langkah ini bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk nyata partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungannya sendiri. Dengan adanya kesepakatan ini, diharapkan tercipta mekanisme yang berkelanjutan untuk meredam potensi konflik dan mencegah penyebaran paham ekstrem di wilayah Poso dan sekitarnya.

Dialog antara TNI dan masyarakat Poso ini telah menunjukkan bahwa kebersamaan dapat dibangun meskipun luka masa lalu belum sepenuhnya hilang. Ruang pertemuan yang sebelumnya mungkin dihindari, kini menjelma menjadi ajang saling merajut kepercayaan. Ke depan, menjaga semangat dialog ini adalah tugas kita semua. Poso tidak ingin kembali menjadi saksi perpecahan, melainkan ingin bangkit sebagai wilayah yang damai, terbuka, dan saling menghargai. Di sinilah pintu rekonsiliasi itu terbuka lebar, dan setiap langkah kecil dari dialog hari ini adalah bekal berharga bagi stabilitas yang lebih kokoh di Sulawesi Tengah.

Polisi dan Tokoh Muda Gelar Patroli Dialogis di Jayapura
Kapolri: Penegakan Humanis dan Dialog Kunci Atasi Potensi Konflik Sosial
Keamanan Siber Nasional Diperkuat untuk Cegah Disinformasi yang Memicu Konflik
Polri dan TNI Tingkatkan Patroli Humanis di Wilayah Rawan Konflik
Kapolri Tekankan Pendekatan Humanis dan Dialog dalam Penanganan Aksi Unjuk Rasa