Tokoh Adat Sentani Ajak Warga Jaga Kedamaian dan Tak Terprovokasi Isu Roma Agreement
Tokoh adat Sentani di Kabupaten Jayapura, Papua, mengajak masyarakat untuk tidak terprovokasi oleh isu Roma Agreement dan tetap menjaga kedamaian. Mereka menekankan pentingnya dialog dan rekonsiliasi dalam menyelesaikan perbedaan pandangan sejarah tanpa mengganggu stabilitas sosial. Pemimpin adat berkomitmen menjadikan Sentani sebagai ruang bersama yang inklusif dan harmonis.
Isu sejarah Roma Agreement yang dikaitkan dengan peristiwa 30 September 1962 kembali mencuat di Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. Di tengah dinamika tersebut, sejumlah tokoh adat setempat justru memilih jalan tengah: mengajak masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi dan tetap mengutamakan kedamaian serta kebersamaan. Mereka menegaskan bahwa pemahaman terhadap sejarah penting, tetapi tidak seharusnya menjadi pemicu tindakan yang dapat mengganggu ketertiban dan harmoni sosial yang telah terjalin.
Menjaga Stabilitas di Tengah Perbedaan Pemahaman Sejarah
Ondofolo Yacob Fiobetauw, salah satu tokoh adat di Sentani, menyampaikan bahwa perhatian masyarakat sebaiknya diarahkan ke masa depan, terutama dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi generasi muda. Menurutnya, kedamaian yang ada saat ini merupakan modal berharga yang harus dijaga bersama. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada masa lalu yang berpotensi memecah belah, melainkan lebih fokus pada upaya membangun kehidupan bersama di Papua.
Senada dengan itu, Septinus Ibo, tokoh adat lainnya, mengajak masyarakat untuk menyikapi berbagai informasi dengan tenang dan tidak menyebarkan isu-isu yang bersifat provokatif. Ia menegaskan bahwa perbedaan pandangan terhadap peristiwa sejarah adalah hal yang wajar, namun penyelesaiannya tidak harus melalui tindakan yang mengganggu stabilitas. Menjaga komunikasi dan persaudaraan menjadi kunci utama dalam menghadapi potensi perpecahan.
Dialog dan Rekonsiliasi sebagai Jalan Bersama
Para pemimpin adat di Jayapura menegaskan komitmen mereka untuk menjadikan Sentani sebagai ruang bersama yang inklusif bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Kebersamaan dianggap sebagai modal utama dalam menjaga harmoni sosial. Untuk itu, upaya-upaya mediatif terus digalakkan agar isu sejarah tidak dimanfaatkan untuk memecah belah persatuan.
Beberapa langkah stabilisasi yang disuarakan tokoh adat antara lain:
- Mengimbau seluruh warga untuk tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu sejarah yang dapat mengganggu ketertiban umum.
- Mendorong masyarakat tetap menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa rasa takut, sambil menjaga komunikasi antarkelompok.
- Memperkuat peran tokoh adat dan tokoh masyarakat sebagai jembatan dialog dalam menyelesaikan perbedaan pandangan secara damai.
- Mengajak generasi muda untuk fokus pada pembangunan dan masa depan Papua yang lebih baik.
Dalam situasi seperti ini, dialog menjadi kata kunci yang tidak bisa ditawar. Rekonsiliasi yang dimulai dari tingkat akar rumput, termasuk melalui peran tokoh adat, diharapkan mampu meredam potensi konflik yang muncul akibat perbedaan interpretasi atas peristiwa bersejarah. Semua pihak, baik masyarakat, pemerintah, maupun pemimpin adat, memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga stabilitas dan keutuhan sosial di Papua.
Ke depan, ruang dialog harus terus dibuka secara luas. Sejarah memang penting untuk dipahami, tetapi bukan untuk dijadikan alat perpecahan. Dengan semangat kebersamaan dan saling menghormati, masyarakat Sentani dan Papua secara keseluruhan dapat melewati perbedaan ini sebagai satu bangsa yang kuat. Saatnya merajut kembali tali persaudaraan dan menempatkan kepentingan bersama di atas perbedaan.