Beranda Ekonomi Rekonsiliasi di Poso: Bekas Eks Kombatan & Masyarakat Sipil...
Ekonomi

Rekonsiliasi di Poso: Bekas Eks Kombatan & Masyarakat Sipil Bangun Kebun Bersama

Rekonsiliasi di Poso: Bekas Eks Kombatan & Masyarakat Sipil Bangun Kebun Bersama

Program rekonsiliasi berbasis agrikultur di Poso, Sulawesi Tengah, berhasil menyatukan mantan kombatan dan warga sipil yang dulu berseberangan melalui pengelolaan kebun jagung dan sayuran seluas 10 hektar. Inisiatif yang difasilitasi pemerintah daerah dan UNDP ini efektif membangun kepercayaan dan dialog antar kelompok secara alami. Keberhasilan panen perdana mendorong rencana perluasan program ke desa-desa lain sebagai model stabilisasi sosial yang produktif.

Di tengah kenangan kelam konflik komunal yang pernah melanda Poso, Sulawesi Tengah, secercah harapan baru muncul dari hamparan lahan pertanian seluas 10 hektar. Program rekonsiliasi berbasis agrikultur yang mempertemukan mantan anggota kelompok konflik dengan warga sipil yang dulu berseberangan ini berhasil menciptakan ruang dialog produktif. Mereka kini bersama-sama mengelola kebun jagung dan sayuran, sebuah inisiatif yang difasilitasi oleh pemerintah daerah dan United Nations Development Programme (UNDP). Langkah ini menjadi contoh nyata bagaimana kegiatan ekonomi dapat menjembatani perbedaan dan membangun kembali kepercayaan di antara pihak-pihak yang pernah berkonflik.

Kebun Bersama: Jembatan Dialog yang Menyuburkan Rekonsiliasi di Poso

Dalam panen perdana yang digelar Rabu (12/8), suasana penuh keakraban terlihat di antara para peserta program. Seorang mantan kombatan mengaku bahwa kegiatan ini membantunya kembali diterima oleh masyarakat setelah bertahun-tahun berada di pinggiran kehidupan sosial. "Awalnya berat, tapi dengan bekerja bersama, rasa curiga perlahan hilang. Kami saling membantu, dan itu yang paling penting," ungkapnya. Di sisi lain, tokoh masyarakat setempat menilai bahwa pendekatan ekonomi produktif jauh lebih efektif dibanding sekadar pertemuan formal di ruang tertutup. "Mereka belajar saling menghargai melalui kerja nyata, bukan hanya kata-kata. Ini cara yang lebih alami untuk menyembuhkan luka lama," ujarnya.

  • Program agrikultur ini diinisiasi sebagai respons terhadap kebutuhan mendesak akan rekonsiliasi di Poso setelah konflik berkepanjangan yang meninggalkan trauma dan perpecahan.
  • Para eks kombatan dan warga sipil berpartisipasi secara sukarela dalam mengelola lahan, mulai dari menanam jagung hingga sayuran, dengan tujuan menciptakan sumber penghidupan bersama.
  • Pemerintah daerah dan UNDP menyediakan bibit, pelatihan teknis, serta pendampingan untuk memastikan keberlanjutan program yang dipandang sebagai model stabilisasi sosial.
  • Tokoh agama dan adat setempat turut mendorong partisipasi aktif masyarakat, menekankan pentingnya kebersamaan dalam memulihkan harmoni yang pernah retak.

Dari Lahan subur Menuju Stabilitas: Belajar dari Pengalaman Poso

Program ini tidak hanya berfokus pada hasil panen, tetapi juga pada proses yang membangun kembali ikatan sosial. Melalui aktivitas seperti menyiangi gulma, memupuk, dan memanen bersama, peserta dari latar belakang berbeda dipaksa untuk saling berkomunikasi dan bergantung satu sama lain. Seorang mantan kombatan mengakui bahwa bekerja di ladang mengajarkannya kesabaran dan kerendahan hati—kualitas yang hilang selama masa konflik. Sementara itu, warga sipil menambahkan bahwa kegiatan ini memberi mereka kesempatan untuk melihat sisi kemanusiaan dari mereka yang dulu dianggap musuh. "Kami sadar, di balik label kombatan, mereka juga bapak-bapak yang ingin anaknya sekolah dan hidup layak," kata seorang peserta dari kelompok sipil.

Keberhasilan panen perdana ini mendorong pemerintah daerah dan UNDP untuk memperluas program ke desa-desa lain di Poso. Rencananya, lahan baru akan dibuka di beberapa lokasi yang masih rawan gesekan, dengan pendekatan serupa yang mengedepankan partisipasi sukarela dan kesetaraan. Para pemangku kepentingan optimis bahwa model kebun bersama ini dapat menjadi katalis bagi rekonsiliasi jangka panjang, terutama jika didukung oleh pengembangan pasar lokal dan pelatihan kewirausahaan bagi para eks kombatan. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa program serupa harus dijalankan secara sensitif terhadap dinamika lokal agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial.

Jalan menuju pemulihan penuh di Poso memang masih panjang, namun kisah kebun bersama ini mengingatkan kita bahwa rekonsiliasi bukanlah hasil dari keputusan politik semata, melainkan dari langkah-langkah kecil yang diambil bersama oleh warga yang berani melampaui masa lalu. Ketika mantan kombatan dan warga sipil dulu berseberangan kini dapat duduk bersama di bawah pohon, berbagi cerita, dan merencanakan masa depan ladang mereka, maka di sana tumbuh benih perdamaian sejati. Semoga semangat dialog yang terjalin di hamparan kebun ini terus menyebar ke seluruh penjuru Poso, menginspirasi lebih banyak pihak untuk saling merangkul dalam kebersamaan.

Entitas dalam Berita
Organisasi: UNDP, pemerintah daerah
Lokasi: Poso, Sulawesi Tengah
Ekonomi Kerakyatan Jadi Jembatan Rekonsiliasi di Maluku Utara
Bank Indonesia: Pertumbuhan Ekonomi Inklusif Kunci Redam Gejolak Sosial
Ekonomi Kerakyatan dan Koperasi Dijadikan Pilar Pemerataan di Masa Prabowo
Menteri Koperasi dan UKM: Koperasi Bisa Jadi Perekat Ekonomi di Tengah Masyarakat Multietnis
Bank Indonesia Optimis Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Tumbuh Inklusif