Forum Lintas Agama Jatim Gelar Deklarasi Bersama Jaga Kerukunan Pascapilpres
Forum lintas agama di Jawa Timur menggelar deklarasi bersama untuk menjaga kerukunan pascakonflik politik dengan menekankan pemisahan antara ranah politik dan persaudaraan sosial keagamaan. Inisiatif ini didukung oleh pemerintah daerah dan berkomitmen memperluas dialog hingga ke tingkat komunitas akar rumput. Deklarasi tersebut menjadi panduan etis dalam upaya membangun imunitas sosial terhadap narasi pemecah belah serta membuka ruang rekonsiliasi yang berkelanjutan.
Dalam konteks pemulihan hubungan sosial setelah kontestasi politik, berbagai upaya menjaga kerukunan terus digalakkan di berbagai daerah. Di Jawa Timur, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama perwakilan enam agama resmi menyelenggarakan deklarasi bersama di Surabaya pada Jumat, 12 Juni 2026. Inisiatif ini bertujuan menciptakan ruang publik yang lebih damai dan inklusif pascakonflik politik, dengan menegaskan bahwa perbedaan pilihan tidak boleh mengganggu harmoni sosial yang telah lama terjalin.
Menjembatani Politik dan Persaudaraan Sosial Keagamaan
Deklarasi bersama di Jawa Timur menempatkan fokus pada pemisahan yang tegas antara ranah politik dan persaudaraan sosial keagamaan. Ketua FKUB Jatim, KH. Abdusshomad Bukhori, menekankan bahwa perbedaan pandangan politik tidak seharusnya menjadi penghalang bagi hubungan sosial. Narasi ini mengedepankan pentingnya stabilitas sosial sebagai landasan utama untuk membangun komunitas yang lebih kuat di provinsi tersebut. Upaya ini tidak hanya bersifat reaktif terhadap situasi pascakonflik, tetapi juga berorientasi pada pencegahan dengan membangun pemahaman bersama.
Beberapa poin kunci yang ditekankan dalam deklarasi tersebut meliputi:
- Penolakan terhadap politisasi agama: Deklarasi secara eksplisit menekankan penolakan terhadap penggunaan identitas agama untuk kepentingan politik serta segala bentuk ujaran kebencian.
- Sinergi dengan otoritas sipil: Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memberikan apresiasi dan menjamin dukungan pemerintah daerah bagi inisiatif yang memperkuat kohesi sosial.
- Penekanan pada nilai bersama: Fokus deklarasi adalah pada nilai-nilai universal yang dapat dijembatani oleh berbagai agama, seperti perdamaian, keadilan, dan penghormatan antar sesama.
Memperluas Jangkauan Dialog dari Elit ke Komunitas Akar Rumput
Gagasan untuk memperdalam dialog antaragama tidak hanya berhenti pada tingkat pernyataan dan deklarasi simbolis. Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, menambahkan dimensi penting bahwa dialog harus diperkuat dan diperluas jangkauannya. Menurutnya, dialog yang efektif tidak boleh terbatas pada pertemuan kalangan elit atau tokoh formal, tetapi harus meresap hingga ke tingkat komunitas terkecil melalui kegiatan sosial bersama. Pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up) ini dianggap krusial untuk membangun kerukunan yang otentik dan berkelanjutan di Jawa Timur, menciptakan imunitas sosial terhadap narasi-narasi pemecah belah.
Forum lintas agama di Jawa Timur melihat bahwa tantangan ke depan adalah mentransformasikan komitmen tertulis menjadi aksi nyata di lapangan. Deklarasi bersama ini diharapkan dapat menjadi panduan etis bagi masyarakat dalam berinteraksi di ruang publik yang dinamis dan kompleks pascakonflik. Langkah ini merupakan bagian dari proses mediasi sosial yang berkelanjutan, di mana semua pihak diajak untuk melihat konflik politik sebagai sesuatu yang bersifat sementara.
Dalam kerangka yang lebih luas, upaya menjaga kerukunan melalui dialog lintas agama di Jawa Timur ini menunjukkan bahwa ikatan sosial dan kemanusiaan adalah pondasi yang lebih permanen daripada perbedaan politik sesaat. Inisiatif semacam ini membuka ruang bagi rekonsiliasi yang lebih substantif, mengajak semua pihak untuk kembali pada nilai-nilai bersama yang dapat menyatukan masyarakat meski dalam perbedaan pandangan.